Skip to content
Follow us on Twitter or subscribe to this
website by email or with the RSS feed

Tips dan Trik URL Rewriting, Bag. 1

Beberapa waktu yang lalu saya pernah menulis sebuah artikel yang berjudul Panduan URL Rewriting. Topik ini sangat menarik, karena banyak sekali aplikasi web yang memanfaatkan teknik URL Rewriting untuk membuat struktur URL yang search engine friendly, salah satu contohnya yaitu WordPress.

wordpress_permalink

Kalau kita klik menu Settings – Permalinks pada WordPress akan terlihat bagaimana struktur URL blog bisa kita ubah dengan mudah. Kita diberikan kebebasan untuk mengatur struktur URL dari blog kita antara lain dengan memilih salah satu alternatif yang sudah ada, atau dengan menyusun sendiri struktur URL berdasarkan tag-tag yang sudah disediakan.

Meskipun sudah pernah saya bahas di sini tapi mengingat topik ini sangat penting, tidak ada salahnya kalau saya membahasnya lagi. Tentu saja saya akan membahasnya secara lebih detail dan terinci. Tak ketinggalan pula saya akan memberikan beberapa contoh yang bisa dipraktekkan secara langsung.

Rencananya saya akan membagi tulisan ini menjadi beberapa seri agar lebih jelas dan mudah dipahami. Untuk bagian pertama ini saya akan fokus ke masalah yang berkaitan dengan .htaccess.

Apa itu .htaccess?

Sebelum membicarakan lebih jauh tentang URL Rewriting, kita perlu tahu lebih dahulu apa itu .htaccess. Bagi Anda yang sudah tahu dan paham tentang .htaccess, boleh melewatkan bagian ini atau silakan baca sepintas saja.

File .htaccess adalah sebuah file dimana kita bisa menuliskan server directive di dalamnya. Apa itu server directive? Server directive yaitu baris-baris perintah yang biasanya diletakkan pada file konfigurasi web server Apache (httpd.conf) atau php.ini. Format file .htaccess ini sama seperti file teks biasa, hanya saja sifatnya adalah invisible alias tidak bisa diakses melalui browser.

Mengapa kita tidak bisa melihat isi file .htaccess melalui web? Alasannya karena default-nya hampir semua web server telah dikonfigurasi untuk mengabaikan file tersebut. Jika kita mencoba mengaksesnya akan muncul pesan error berupa Access Forbidden. Kita bisa membuka dan mengedit file .htaccess dengan editor teks seperti Notepad.

Berbeda dengan httpd.conf, file .htaccess ini bisa diletakkan pada sembarang direktori di website. Dengan kemampuan ini kita bisa menuliskan server directive yang khusus ditujukan untuk direktori tertentu saja.

Bagaimana Cara Mengaktifkan .htaccess?

Kita perlu memastikan bahwa setting .htacess telah aktif pada website kita. Jika kita menyewa web hosting, biasanya setting tersebut sudah. Kita bisa mengeceknya dengan melihat spesifikasi fitur layanan web hosting yang kita sewa. Namun jika tidakĀ  ditemukan, kita bisa bertanya kepada administratornya.

Bagaimana kalau ternyata web hosting tersebut tidak men-support pemakaian .htaccess? Wah kalau seperti ini mungkin sebaiknya kita pindah hosting saja. Setuju? :-)

Jika kita menginstall Apache di komputer kita sendiri, cara mengeceknya yaitu dengan melihat konfigurasinya pada file httpd.conf. Lihat pada bagian <Directory> seperti contoh berikut:

# This should be changed to whatever you set DocumentRoot to.
#
<Directory "D:/project/website">

Perhatikan beberapa baris selanjutnya. Jika ada baris seperti di bawah ini:

AllowOverride None

Ubah baris tersebut menjadi:

AllowOverride All

Langkah berikutnya restart Apache. Nah, sekarang setting .htaccess sudah aktif dan kita bisa memakai file .htaccess untuk proyek kita nantinya. Pada tulisan berikutnya saya akan membahas apa saja yang bisa kita lakukan dengan file .htaccess tersebut.

(bersambung ke bagian 2)

Post to Twitter Tweet This Post to Delicious Delicious Post to Digg Digg This Post to Facebook Facebook Post to MySpace MySpace Post to StumbleUpon Stumble This

Artikel Terkait:

POST BANNER

Bagaimana Komentar Anda?

Monggo kalau Anda mau mengomentari tulisan di atas! Bertanya atau mengkritik juga boleh, tapi jangan terlalu menyakitkan :).

Tinggalkan Pesan